ISMAFARSI

Student Prescription #4: Imunologi – Autoimun

Penyakit autoimun semakin banyak ditemukan seiring dengan semakin canggihnya alat kedokteran. Sistem kekebalan tubuh berfungsi untuk melawan dan menghancurkan zat-zat asing berbahaya yang masuk ke dalam tubuh seperti bakteri dan virus. Namun, ada kalanya sistem kekebalan tubuh itu mengalami gangguan dan penyimpangan fungsi sehingga keliru menyerang sel-sel tubuh itu sendiri. Hal inilah yang dikenal dengan sebutan autoimun. Bila kegagalan ini dibiarkan berlarut-larut, fungsi tubuh akan terganggu dan rusak karena serangan sistem imun tersebut. Penyakit autoimun adalah respon imun yang mengakibatkan kerusakan pada jaringan tubuh sendiri serta mengganggu fungsi fisiologis tubuh (Bratawidjaya, 2012). Penyakit autoimun dapat menyerang bagian tubuh manapun dengan tanda klasik autoimun berupa inflamasi. Penyakit ini lebih sering ditemukan pada wanita dan merupakan penyebab kematian sepuluh terbanyak pada anak perempuan dan wanita (AARDA, 2016).

Penyakit autoimun dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah faktor genetik, infeksi, lingkungan, hormonal, daerah/suku, diet dan toksik/obat. Patogenesis autoimun terdiri atas gangguan aktivitas selular dan protein regulator. Gangguan aktivitas selular dapat terjadi apabila tubuh gagal mempertahankan toleransi akan self-antigen dan terjadi aktivasi autoreaktif sel imun terhadap self-antigen tersebut. Mekanisme kegagalan toleransi tersebut diperankan oleh sel T perifer dalam berbagai proses.

Selain itu, gangguan aktivitas protein regulator dijelaskan dalam hubungan antara gen non-HLA yaitu limfosit T sitotoksik dengan antigen-4 (CTLA4), protein tirosin fosfat nonreseptor tipe 22 (PTPN22), lokasi rentan autoimun (PDCD1, FCRL3, SUMO4, CD25, PADI4 dan SLC22A4), TNF-a dan FOXP3. Interaksi gen non-HLA dengan protein tersebut akan mengubah aktivitas regulator dan menyebabkan kekacauan atau defek pada protein terkait. Keadaan tersebut menjadi target utama dari respon autoimun. (Immunol, dkk. 2012).

Gejala penyakit autoimun, antara lain kelelahan, pegal otot, ruam kulit, demam ringan, rambut rontok, sulit konsentrasi, kesemutan di tangan dan kaki. Penyakit yang termasuk penyakit autoimun, antara lain juvenile idiopatik artritis (JIA), multipel sklerosis, lupus eritemetosus sistemik (SLE), diabetes melitus tipe 1, sindrom grave, skleroderma, multipel sklerosis (U.S. Departement of Health and Human Services, 2002).

Saat ini sebagian besar terapi yang diberikan untuk penderita autoimun bersifat simpatomatik, yaitu mengurangi keluhan tanpa melihat penyakit utama yang menyebabkan keluhan tersebut timbul. Terapi ini bertujuan untuk menghambat respon imun dengan menghilangkan sel imun didapat yang spesifik atau menghambat aktivasi sel imun pada organ target. Contohnya, pemberian suntik insulin pada penderita diabetes tipe 1 untuk mengatur kadar gula darah atau pemberian hormon tiroid bagi penderita tiroiditis. Akan tetapi, strategi ini hanya sedikit membantu dalam mengatasi respon imun proinflamasi terhadap protein endogen maupun jaringan. Ditambah lagi, pengobatan konvensional dengan prednisone dan rituximab dapat mensupresi sebagian besar sistem imun. Penekanan imun tersebut menyebabkan pasien lebih rentan terhadap infeksi oportunistik dan kanker (Perelman School of Medicine, 2013).

Beberapa upaya untuk mengurangi risiko terjadinya penyakit autoimun, antara lain berolahraga secara rutin, menjaga berat badan agar tetap ideal, tidak merokok, dan menjaga kebersihan tubuh agar terhindar infeksi virus dan bakteri

DAFTAR PUSTAKA

American Autoimmune Related Diseases Association. (2016). Autoimmune Disease Fact Sheet. United states.

Bratawidjaya, K.G. (2012). Imunologi Dasar. Edisi ke-10. Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia: Jakarta.

Immunol, J.C.C., Ray, S., Sonthalia, N., Kundu, S., Ganguly, S. (2012). Autoimmune Disorders: An Overview of Molecular and Cellular Basis in Today’s Perspective. J Clin Cell Immunil. 1(1):1–12.

Perelman School of Medicine. (2013). New Therapy Treats Autoimmune Disease Without Harming Normal Immunity. University of Pennsylvania Health System: United States. United States Department of Health and Human Services. (2002). Autoimmune Disease. Diakses dari https://www.niaid.nih.gov/diseases-conditions/autoimmune-disease-research

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *