ISMAFARSI

Student Prescription #2: Imunologi – Respon Imun Bawaan

Pada dasarnya, tubuh manusia memiliki sistem imunitas yang didesain untuk melawan sel abnormal maupun benda asing yang masuk ke dalam tubuh. Seperti yang kita ketahui, mekanisme pertahanan oleh sistem imun terdiri atas respon imun bawaan (innate immunity) dan respon imun adaptive (adaptive immunity). Pembagian ini bukan berarti mereka sepenuhnya berdiri sendiri, namun keduanya justru saling bekerja secara sinergi. Respon imun bawaan merupakan lini pertahanan pertama tubuh dalam melawan semua jenis patogen yang masuk ke dalam tubuh kita. Lantas, seperti apa sebenarnya respon imun bawaan ini dan bagaimanakah mekanisme kerjanya?

Imun bawaan memiliki karakteristik yang berbeda dengan imun adaptive. Imun bawaan memiliki mekanisme pertahanan yang non-spesifik. Artinya, imun bawaan tidak bisa membedakan patogen secara spesifik dan bisa langsung menyerang semua benda asing yang masuk ke dalam tubuh kita. Namun, imun bawaan ini tidak dapat mengingat benda asing apa saja yang pernah masuk dan bagaimana cara tubuh melawan benda asing tersebut.

Respon imun bawaan bekerja dengan melepaskan interferon dari sel yang terinfeksi oleh virus. Kemudian, interferon tersebut berikatan dengan reseptor pada sel yang belum terinfeksi oleh virus dan memberitahukan supaya waspada terhadap serangan virus. Sel yang belum terinfeksi segera memproduksi inactive enzyme yang dapat menghambat sintesis protein virus. Segera setelah virus masuk ke dalam sel tersebut, enzim akan diaktifkan dan virus tidak lagi dapat melakukan replikasi. Natural Killer (NK) cells juga berperan dalam respon imun bawaan. NK cells menghancurkan sel yang telah terinfeksi oleh virus dan sel kanker dengan cara mengeluarkan bahan kimia yang dapat memecah membran sel tersebut.

Respon imun bawaan juga dapat bekerja melalui respon inflamasi, yakni respon pertahanan lokal pada jaringan yang terluka akibat trauma maupun infeksi. Ketika partikel asing masuk ke dalam tubuh, lini pertahanan pertama pada respon inflamasi adalah makrofag jaringan yang melakukan fagositosis. Lini pertahanan kedua adalah neutrofil yang keluar melalui celah-celah pembuluh darah menuju jaringan yang rusak untuk melakukan fagositosis. Pertahanan tubuh kemudian dibantu oleh monosit yang berubah menjadi makrofag dalam menjalankan fungsinya sebagai sel fagosit. Rangsangan dari jaringan yang terluka mesekresikan colony-stimulating factors yang meningkatkan produksi leukosit untuk membantu menanggulangi inflamasi.

Selain berperan sebagai pertahanan pertama tubuh, imun bawaan juga berperan dalam menstimulasi respon imun adaptive yang bekerja secara spesifik terhadap benda asing yang masuk ke dalam tubuh kita. Imun bawaan memberikan “second signals” untuk mengaktivasi limfosit B dan limfosit T yang bertanggung jawab atas respon imun adaptive.

Referensi:

Abbas, A.K. and Lichtman, A.H. 2004. Basic Immunology: Functions and Disorders of the Immune System. 2nd Ed. Philadelphia: Saunders.

Saladin, K.S. 2018. Anatomy & Physiology: The Unity of Form and Function. 8th Ed. New York: McGraw-Hill Education.

Silverthorn, D.U. 2019. Human Physiology an Integrated Approach. 8th Ed. USA: Pearson.

Sherwood, L. 2010. Human Physiology: From Cells to Systems. 7th Ed. Canada: Brooks/Cole, Cengage Learning.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *