ISMAFARSI

Student Prescription #19: Khasiat & Efek Samping Obat Tradisional

perang baik jahat obat tradisional

Baca Artikel Student Prescription sebelumnya di sini

 

Indonesia memiliki 9.600 spesies tanaman yang memiliki khasiat sebagai obat dengan kurang lebih 300 spesies tanaman telah digunakan sebagai bahan baku obat herbal oleh industri obat herbal di Indonesia (DepKes RI, 2007). Tetapi, baru puluhan jenis obat herbal yang terstandar dan lima jenis obat fitofarmaka yang bisa diresepkan dokter.  Banyak masyarakat yang percaya bahwa obat herbal lebih aman daripada obat kimia. Namun, bagaimana faktanya?

Di seluruh penjuru dunia, obat herbal telah dipercaya akan khasiatnya. Menurut WHO, negara-negara latin banyak memanfaatkan obat herbal sebagai pelengkap pengobatan primer (WHO, 2003). Pada umumnya penggunaan obat herbal dinilai lebih aman daripada penggunaan obat modern. Hal ini disebabkan karena obat herbal memiliki efek samping yang relatif lebih sedikit daripada obat modern.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penggunaan obat herbal untuk meminimalisir efek samping, yaitu:

  1. Ketepatan obat

Di Indonesia terdapat berbagai macam tanaman obat dari berbagai spesies yang terkadang sulit untuk dibedakan. Setiap spesies dari tanaman obat memiliki khasiat yang berbeda sehingga kita harus tepat menggunakan obat. Terdapat kasus di Belgia 70 orang harus menjalani transplantasi ginjal akibat mengkonsumsi pelangsing dari tanaman yang keliru (WHO, 2003). Oleh karena itu, dari kasus ini dapat disimpulkan bahwa fatal akibatnya apabila kita salah dalam memilih bahan obat.

  1. Ketepatan dosis

Seperti halnya obat kimia, tanaman obat juga tak bisa dikonsumsi sembarangan. Tanaman obat juga memunyai dosis dan aturan pakai yang harus dipatuhi seperti halnya resep dokter. Banyak masyarakat beranggappan bahwa tanaman obat bisa dikonsumsi secara sembarangan tanpa dosis yang tepat. Tanaman obat tidak dapat begitu saja dikonsumsi secara bebas. Takaran dan dosis tetap harus sesuai dengan ketentuan. Hal ini tidak menutup kemungkinan bahwa tanaman obat memiliki efek samping.

  1. Ketepatan waktu penggunaan

Waktu penggunaan obat harus tepat untuk meminimalisir efek samping yang timbul. Kunyit adalah salah satu contohnya. Kunyit dipercaya dapat mengurangi nyeri pada saat haid justru dapat menyebabkan keguguran apabila dikonsumsi pada awal masa kehamilan. Oleh karena itu, efek dari tanaman obat sangat dipengaruhi oleh ketepatan waktu penggunaan.

  1. Ketepatan cara penggunaan

Setiap tanaman obat tidak bisa dikonsumsi dengan sembarang cara. Tidak semua tanaman obat memiliki khasiat apabila dikonsumsi dengan cara diminum air rebusannya. Contohnya, daun kecubung digunakan sebagai bronkodilator dengan cara dihisap daunnya. Namun, daun kecubung akan memabukkan apabila dikonsumsi dengan cara diseduh.

 

Daftar Pustaka

DepKes RI. (2007). Lampiran Keputusan Mentri Kesehatan Nomor: 381/Menkes/ SK/III/2007 mengenai Kebijakan Obat Herbal Nasional. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Sastroamidjojo, S. (2001). Obat Asli Indonesia. Jakarta: Dian Rakyat.

Sumayyah, S. dan Salsabila, N. (2017). Obat Herbal: Antara Khasiat dan Efek Sampingnya. Majalah Farmasetika. 2 (5): 1-4.

Universitas Airlangga. (2014). Obat Herbal Lebih Aman dari Obat Kimia?, https://fk.unair.ac.id /archives/2014/04/07/obat-herbal-lebih-aman-dari-obat-kimia.html. diakses pada 19 Juli 2021.

World Health Organization. (2003). Traditional medicine, http://www.who.int/mediacentre/fact sheets/fs134/en/, diakses pada 19 Juli 2021.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *