ISMAFARSI

Student Prescription #15: Ancaman Perkembangan IT di Dunia Kefarmasian

data diserang hacker

Baca artikel sebelumnya di sini

 

Hampir setiap bidang dalam hidup kita menggunakan teknologi informasi. Mulai dari bangun tidur hingga kita kembali tertidur, kita selalu menggunakan teknologi.  Teknologi banyak digunakan  karena memiliki banyak keuntungan, seperti cepatnya berkomunikasi, mendapatkan informasi dengan mudah, mempermudah arsip, dan masih banyak lagi keuntungan yang dihasilkan.

Namun, banyak sekali ancaman yang banyak mengintai pengguna teknologi informasi, seperti keamanan dari data. Teknologi informasi bekerja dengan menghimpun sejumlah besar data dan menyimpannya dalam satu database yang nanti akan dapat diakses oleh pengguna. Data ini bisa berupa data pribadi, organisasi, atau Industri. Keamanan data ini yang menjadi isu penting belakangan ini. Seperti bocornya 279 juta data kependudukan Indonesia di forum internet.  Data tersebut diduga bocor dan diperjualbelikan di forum internet. Data itu mencakup nomor induk kependudukan, kartu tanda penduduk (KTP), nomor telepon, email, nama, alamat, hingga gaji (Hakim, 2021).

Ancaman lainnya adalah banyaknya tersebar berita hoaks. Berita hoaks atau berita bohong merupakan suatu ancaman yang sangat banyak terjadi belakangan ini. Kemunculan internet semakin memperparah sirkulasi hoaks di dunia. Sama seperti meme, keberadaannya sangat mudah menyebar lewat media-media sosial. Apalagi biasanya konten hoaks memiliki isu yang tengah ramai di masyarakat dan menghebohkan sehingga sangat mudah memancing orang untuk membagikannya. Di bidang farmasi, kemunculan hoaks biasanya berupa suatu informasi tentang suatu produk yang berhasil menyembuhkan suatu penyakit. Padahal produk tersebut belum pernah melalui uji klinis serta belum tentu kebenarannya.

Ancaman selanjutnya yaitu mudahnya seseorang atau oknum melakukan kejahatan siber. Internet menghadirkan kesempatan yang amat luas untuk pelaku kejahatan siber karena pengguna tidak perlu menunjukkan diri maupun identitas aslinya. Kejahatan siber ini bisa jadi berupa penipuan, pencurian identitas, peretasan gawai, serta Ransomware. Ransomware adalah kejahatan siber yang bertujuan untuk menuntut pembayaran untuk data atau informasi pribadi yang telah dicuri, atau data yang aksesnya dibatasi (enkripsi). Biasanya pelaku ransomware memanfaatkan cryptocurrency untuk menerima pembayaran agar tidak dengan mudah terlacak. Pada tahun 2017, Rumah Sakit Kanker Dharmais dan Rumah Sakit Harapan Kita, Jakarta terkena ransomware Wannacry yang mengakibatkan beberapa database pasien pada komputer tidak dapat diakses. Ransomware ini bermodus menyandera data dan meminta tebusan uang. (Gov-CSIRT Indonesia, 2020).

Oleh karena itu, kita harus tetap waspada terhadap penggunaan teknologi. Mulai dari memeriksa kebenaran berita yang kita dapat. Selain itu, jangan memberikan data pribadi kepada orang atau institusi yang tidak dikenal.  Pastikan website yang kita akses adalah website yang resmi. Jangan mudah percaya dengan pesan elektronik atau surat elektronik yang berisi hadiah dengan tebusan tertentu. Lalu, sebaiknya kita tidak mengunduh aplikasi atau file yang mencurigakan.

 

Daftar Pustaka

Gov-CSIRT Indonesia. (2020). Penanganan dan Pencegahan Insiden Ransomware. https://govcsirt.bssn.go.id/penanganan-dan-pencegahan-insiden-ransomware/ diakses pada 20 Juni 2021.

Hakim, R. N. (2021, Juni 4). Polri: Diduga Keras Data Kependudukan BPJS Kesehatan Bocor. https://nasional.kompas.com/read/2021/06/04/06300041/polri–diduga-keras-data-kependudukan-bpjs-kesehatan-bocor diakses pada 20 Juni 2021

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *