ISMAFARSI

Student Prescription #14: E-Prescribing

e-prescribing telemedicine

Baca artikel Student Prescription sebelumnya di sini

Saat ini, kemajuan teknologi telah menyebar ke berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam dunia kesehatan. Salah satu peran teknologi dalam dunia kesehatan, khususnya dalam aspek kefarmasian adalah keberadaan resep elektronik atau e-prescription. Pengertian e-prescription adalah pelayanan resep secara elektronik yang mana di dalamnya mencakup tahap penulisan resep (prescribing), penyiapan dan penyerahan obat (dispensing), penggunaan obat (administration), dan proses mentoring (Arifin, S dan Dirgahayu, T., 2017). Informasi yang dapat ditranskripsikan melalui e-prescription ini tidak hanya antara dokter dengan alat pembuat resep elektronik saja, melainkan terdapat cacatan elektronik kesehatan yang dikenal dengan Electronic Health Record (HER) System (Alfah, R., dkk., 2018).

Penulisan resep tanpa kertas berarti bahwa resep dapat dikirim langsung ke Instalasi Farmasi atau Apotek tanpa dibawa terlebih dahulu oleh pasien. Hal ini memberikan kemudahan bagi dokter, apoteker, dan juga pasien. Bagi dokter, resep elektronik dapat memberikan informasi tentang obat-obatan yang akan diresepkan dan membantu membuat resep sesuai formularium nasional. Bagi apoteker, resep menjadi lebih mudah dibaca sehingga mempersingkat waktu penyiapan obat dan pelayanan obat. Bagi pasien, mereka bisa langsung ke instalasi farmasi untuk mengambil obat dan tidak perlu menunggu terlalu lama, sehingga dapat meningkatkan kepuasan pasien terhadap pelayanan kefarmasian (Adrizal, dkk., 2019).

Umumnya, penggunaan e-prescription dapat menurunkan kemungkinan terjadinya medication error, yakni kegagalan dalam proses pengobatan yang berpotensi menyebabkan kerugian pasien dan dapat membahayakan nyawa mereka. Salah satu kelompok medication error  menurut American Society of Hospital Pharmacists (ASHP) adalah prescribing error (kesalahan penulisan resep). Sebuah hasil penelitian menunjukkan bahwa e-prescription dapat menurunkan kejadian prescribing errors, dari 39,1% sebelum implementasi menjadi 1,6% setelah implementasi e-prescription (Sabila, FC dkk., 2018). Penelitian oleh Devine et al. menunjukkan bahwa implementasi e-prescription tidak hanya menurunkan ketidaklengkapan resep, tetapi juga dapat menurunkan 76% interaksi obat. Hal ini dikarenakan sistem juga dilengkapi dengan clinical decision support yang mana dapat memberikan rekomendasi terhadap interaksi obat (Widiastusi, MS dan Dwiprahasto, I., 2014).

 

Referensi:

Adrizal, dkk. (2019). Analisis Pelayanan Resep Konvensional dan Elektronik serta Pengaruhnya terhadap Kualitas Pelayanan Kefarmasian di RSUD M. Natsir Solok Indonesia. J Sains Farm Klin. 6(3):195–199

Alfah, R., dkk. (2018). Sistem e-Prescribing dan Barcode System untuk Resep Obat di Rumah Sakit. JTIULM. 3(2): 59-70.

Arifin, S. dan Dirgahayu, T. (2017). Evaluasi Implementasi Modul E-Prescribing Rumah Sakit Dengan Metode Pieces (Evaluate the Implementation E-Prescribing Module Development in Hospital Based on Piecees Method).  JUITA. 5(2): 115-130.

Sabila, FC., dkk. (2019). Peresepan Elektronik (E-Prescribing) Dalam Menurunkan Kesalahan Penulisan Resep. Majority. 7(3): 271-275

Widiastusi, MS dan Dwiprahasto, I. (2014). Peran Resep Elektronik Dalam Meningkatkan Medication Safety Pada Proses Peresepan. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 17(1): 30 – 36.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *