ISMAFARSI

STUDENT PRESCRIPTION #12: PENCEGAHAN RESISTENSI ANTIMIKROBA

mencegah resistensi mikroba

Baca artikel Student Prescription Edisi 11 di sini

Resistensi antimikroba telah menjadi masalah kesehatan masyarakat di dunia. Dalam laporannya tahun 2014, WHO menyatakan bahwa masalah resistensi antimikroba merupakan ancaman serius bagi kesehatan masyarakat, termasuk di Indonesia.

Resistensi antimikroba adalah keadaan saat bakteri, virus, jamur, dan parasit mengalami perubahan seiring dengan waktu sehingga tidak lagi merespons obat-obatan yang dirancang untuk membunuh mikroba-mikroba tersebut (WHO, 2020).

Persoalan resistensi obat antibiotik sudah menjadi masalah sejak lama. Namun, akhir-akhir ini permasalahan resistensi ini bertambah dengan terjadinya resistensi obat antivirus, antiparasit, dan antijamur (WHO, 2020).

WHO sudah menetapkan bahwa resistensi antimikroba termasuk dalam 10 besar masalah kesehatan global. Resistensi antimikroba dapat menyebabkan infeksi semakin sulit diobati, serta meningkatkan risiko penyebaran penyakit, peningkatan keparahan penyakit, dan kematian. Berikut adalah beberapa cara pencegahan resistensi antimikroba :

  1. Mencegah infeksi sedini mungkin

Kita bisa membantu mencegah infeksi dengan hal-hal yang sederhana, seperti menerima vaksin, menjaga kebersihan, serta mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun. Mencuci tangan dapat mencegah penyebaran kuman, seperti bakteri dan virus tanpa harus menggunakan obat.

  1. Menggunakan obat antimikroba hanya jika diresepkan oleh dokter

Pasien tidak diperkenankan mengonsumsi obat antimikroba tanpa resep dokter. Tidak semua penyakit membutuhkan obat antimikroba. Untuk memutuskan konsumsi obat antimikroba diperlukan atau tidak, pasien harus berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu.

Pengobatan sendiri (swamedikasi) dengan antimikroba tanpa berkonsultasi dengan dokter dapat menyebabkan ketidaktepatan pengobatan. Sebagai contoh swamedikasi pasien COVID-19 dengan antibiotik. Padahal diketahui bahwa COVID-19 disebabkan oleh virus. Virus tidak mati dengan antibiotik karena antibiotik dirancang untuk membunuh bakteri.

  1. Mengonsumsi obat antimikroba yang diberikan sesuai dengan petunjuk dokter sampai habis

Apabila dokter meresepkan obat antimikroba, obat harus dikonsumsi sampai habis dan sesuai dengan petunjuk dokter. Obat harus dikonsumsi sampai habis walaupun gejala sudah tidak dirasakan lagi.  Pasien juga dapat berkonsultasi dengan apoteker untuk bertanya lebih lanjut tentang penggunaan obat antimikroba yang baik dan benar.

Jika selama mengonsumsi obat antimikroba dirasakan hal-hal yang kurang nyaman, segera kembali ke dokter untuk mengonsultasikan ketidaknyamanan tersebut. Dokter mungkin perlu memeriksa dan mengkaji ulang obat antimikroba sesuai dengan kebutuhan.

  1. Tidak mengulang konsumsi antimikroba tanpa anjuran dokter

Apabila obat antimikroba yang diresepkan oleh dokter sudah habis, pasien tidak boleh membeli sendiri obat tersebut untuk dikonsumsi kembali. Jika pengobatan sudah selesai namun masih merasakan gejala sakit, segera kembali ke dokter untuk berkonsultasi lebih lanjut.

 

Daftar Pustaka

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia (2018). Pengendalian Resistensi Antimikroba jadi Perhatian Dunia. https://www.kemkes.go.id/article/view/18112900002/pengendalian-resistensi-antimikroba-jadi-perhatian-dunia.html diakses pada 25 Mei 2021 pukul 19.00 WIB.

Pusat Perilaku dan Promosi Kesehatan FKKMK UGM (2020). 5 Cara Mencegah Resistensi Antimikroba. https://chbp.fk.ugm.ac.id/2020/11/19/5-cara-mencegah-resistensi-antimikroba/ diakses pada 25 Mei 2021 pukul 20.05 WIB.

World Health Organization (2020). Antimicrobial Resistance. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/antimicrobial-resistance diakses pada 25 Mei 2021 pukul 21.15 WIB.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *