ISMAFARSI

STUDENT PRESCRIPTION #11: Akibat Resistensi Antimikroba

kematian akibat resistensi antimikroba

Baca Mekanisme Resistensi Antimikroba di sini

Penyakit yang diakibatkan oleh bakteri patogen yang resisten akan memicu penggunaan antibiotik dengan dosis lebih tinggi atau dibutuhkan alternatif antibiotik golongan baru yang lebih poten. Hal ini sangat mempengaruhi biaya yang dikeluarkan dan berdampak kepada kualitas kesehatan manusia. Penyakit yang ditimbulkan oleh bakteri yang resisten akan menjadi lebih sulit untuk diobati dan meningkatkan resiko kematian terutama pada anak-anak, manula dan golongan yang mengalami imunosupresi. Beberapa dampak resistensi antimikroba bagi kesehatan manusia antara lain:

  • Meningkatnya angka morbiditas pada manusia

Tahun 2014 sebanyak 700.000 angka kematian terjadi akibat kasus penyakit infeksi bakteri yang resisten terhadap antibiotik (WHO, 2017). Ada literature yang menyebutkan bahwa hingga 50.000 nyawa hilang setiap tahun karena infeksi bakteri yang resisten terhadap antibiotik di Eropa dan Amerika Serikat (O’Neill, 2017). Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menyatakan bahwa kejadian resistensi tiga strain bakteri patogen utama pada manusia seperti Salmonella, Campylobacter dan E. coli terkait erat dengan penggunaan antibiotik pada pakan. Tiga mikroorganisme ini adalah tiga dari lima penyebab foodborne disease utama atau penyebab sekitar 90% kematian akibat infeksi patogen bawaan makanan di Amerika Serikat. Menurut WHO jumlah bakteri Salmonella enteritidis dan Campylobacter spp. resisten terhadap kuinolon dari isolat manusia dan hewan   diketahui semakin meningkat. Beberapa Salmonella Typhimurium juga telah mengalami resisten terhadap ampisilin, kloramfenikol, streptomisin, sulfonamida dan tetrasiklin. Laporan menyebutkan hal ini terkait dengan tren penggunaan antimikroba subterapeutik di peternakan.

  • Meningkatnya angka kematian pada manusia

Helms et al. (2002) menemukan bahwa pasien terinfeksi dengan Samlonella Typhimurium resisten terhadap ampisilin, kloramfenikol, streptomisin, sulfonamide dan tertrasiklin memiliki kemungkinan tingkat kematian 4,8 kali lebih (tingkat kepercayaan 95%). Selanjutnya, mereka menyatakan bahwa resistensi kuinolon dalam organisme ini dapat menyebabkan angka kematian 10,3 kali lebih tinggi dari populasi umum lainnya.

  • Menurunkan efikasi antibiotic pada pengobatan manusia

Resistensi antimikroba karena penggunaan antibiotik pada hewan ternak dapat menyebabkan turunnya tingkat efikasi sebagian besar atau semua anggota kelas antibiotik tersebut, sedangkan beberapa di antaranya mungkin sangat penting untuk pengobatan manusia. Hal ini terjadi karena kesamaan dari komponen struktural antibiotik tersebut, yang menyebabkan cross-recognition dan cross-resistance untuk semua atau sebagian besar antibiotik dari kelas yang sama.

Resistensi virginiamycin bereaksi silang dengan resistensi streptogramin yang dipakai di manusia dan resistensi terhadap quinupristin-dalfopristin (Hayes et al., 2001). Avoparcin dan vankomisin adalah antibiotik golongan glikopeptida, kedua antibiotik ini memiliki struktur yang mirip namun berbeda dalam penggunaan dan aplikasi. vancomycin secara klinis penting bagi manusia dan sering berfungsi sebagai obat pilihan terakhir untuk infeksi bakteri gram positif. Avoparcin digunakan pada hewan sebagai pemicu pertumbuhan di Uni Eropa. Resistensi vankomisin terjadi sebagai dampak penggunaan subterapeutik avoparcin pada hewan ternak, hal ini yang menyebabkan pelarangan penggunaan avoparcin di peternakan di UE.

  • Meningkatnya biaya kesehatan manusia

Dengan meningkatnya kejadian AMR dalam beberapa tahun terakhir menimbulkan dampak terjadi peningkatan pengeluaran biaya kesehatan yang jauh lebih tinggi. Kenaikan biaya kesehatan memiliki dampak yang signifikan di negara-negara miskin di mana sumber daya lebih terbatas dan efikasi antibiotik menurun menjadi faktor penting yang mempengaruhi morbiditas dan mortalitas manusia.Peningkatan biaya perawatan kesehatan dapat disebabkan oleh perawatan dengan menggunakan antibiotik tambahan, rawat inap yang lebih lama, tes diagnostik lebih kompleks, biaya jasa profesional yang lebih tinggi dan tindakan medis lainnya.

 

Daftar Pustaka

Hayes, J.R., McIntosh, A.C, Qaiyumi, S., Johnson, J.A., English, L.L., Carr, L.E., Wagner, D.D., Joseph, S.W. (2001). High-frequency recovery of quinupristin-dalfopristin-resistant Enterococcus faecium isolates from the poultry production environment. Journal of clinical microbiology. 39 (6), 2298-9.

Helms, M., Vastrup, P., Gerner-Smidt, P., & Mølbak, K. (2002). Excess mortality associated with antimicrobial drug-resistant Salmonella typhimurium. Emerging infectious diseases. 8 (5), 490-5.

Walyani, S. (2019). Antimicrobial Resistance (AMR) dan Dampaknya Bagi Kesehatan Manusia. Medik Veteriner Pertama, Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner. Jakarta.

World Health Organization (2017). Highest Priority Critically Important Antimicrobials. https://www.who.int/foodsafety/cia/en/#:~:text=In%20the%20latest%20version%20of,ketolides%2C%20glycopeptides%2C%20and%20polymyxins diakses pada 18 Mei 2021 pukul 22:00 WIB.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *