ISMAFARSI

STUDENT PRESCRIPTION #8: SAMPAI KAPAN VAKSIN AKAN BERTAHAN

vaksin, efek, kerja

Baca artikel sebelumnya di sini

 

Sudah sejak awal tahun 2021 ini vaksin Covid-19 disebarkan. Namun, timbul pertanyaan dalam masyarakat, seperti hingga berapa lama efektivitas vaksin ini akan bertahan? Apakah vaksin dapat melindungi tubuh secara permanen?  Akankah dilakukan vaksinasi ulang? Kapan pemberian vaksin diulang?

Dampak vaksin COVID-19 terhadap pandemi akan bergantung pada beberapa faktor, seperti efektivitas vaksin, seberapa cepat vaksin disetujui, diproduksi, dan dikirim, serta berapa banyak target jumlah orang yang akan divaksinasi. Pemerintah menargetkan setidaknya 60% penduduk Indonesia secara bertahap akan mendapatkan vaksin COVID-19 agar mencapai kekebalan kelompok (herd immunity). Kekebalan kelompok atau yang juga dikenal sebagai ‘kekebalan populasi’ adalah konsep yang digunakan untuk imunisasi. Yang mana suatu populasi dapat terlindung dari virus tertentu jika suatu ambang cakupan imunisasi tertentu tercapai.

Secara umum, vaksin bekerja dengan merangsang pembentukan kekebalan tubuh secara spesifik terhadap bakteri/virus penyebab penyakit tertentu. Seseorang bisa terhindar dari penularan penyakit akibat bakteri/virus tertentu jika sudah divaksin. Vaksin bukanlah obat. Vaksin mendorong pembentukan kekebalan spesifik pada penyakit COVID-19 agar terhindar dari tertular ataupun kemungkinan sakit berat.

Antibodi akan terbentuk dan mencapai kadar puncak dalam waktu tertentu. Vaksin Sinovac yang telah didistribusikan misalnya, memiliki rentang waktu dua minggu atau 14 hari antara pemberian dosis pertama dan kedua. Dosis pertama diberikan dengan tujuan agar tubuh mengenali antigen sehingga tubuh bisa mulai membentuk antibodi pada kadar tertentu. Pada pemberian dosis kedua, diharapkan antibodi yang terbentuk lebih tinggi lagi dari pemberian pertama. Hanya saja, para ahli hingga saat ini masih meneliti berapa lama kekebalan tubuh terhadap Covid-19 itu dapat bertahan pada orang-orang yang telah divaksin. Selain karena virus tersebut masih sangat baru, adanya mutasi virus membuat para peneliti seluruh dunia masih terus mengumpulkan data tentang Covid-19.

Oleh karena itu, dilakukan pemberian booster tiap interval tertentu agar kadar antibodi di dalam tubuh bisa optimal dalam menjaga Kesehatan tubuh. Interval pemberian booster untuk vaksin ini tergantung bagaimana kadar antibodi dalam tubuh bisa bertahan. Sebagai contoh vaksinasi difteri yang harus diberikan ulang setiap 10 tahun, vaksinasi tetanus yang harus diulang setiap 10 tahun, vaksinasi hepatitis B yang harus diulang setiap 5 tahun, dan vaksinasi influenza yang harus diulang setiap 1 tahun. Hal ini dilakukan agar tubuh memiliki kadar antibodi yang cukup untuk melindungi tubuh dari penyakit.

 

Daftar Pustaka

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2021). Tanya Jawab. https://covid19.go.id/tanya-jawab diakses pada tanggal 14 April 2021 pukul 03.12 WIB.

Slifka, A. M., Park, B., Gao, L., & Slifka, M. K. (2021). Incidence of tetanus and diphtheria in relation to adult vaccination schedules. Clinical Infectious Diseases. 72(2): 285-292.

Voysey, M., Clemens, S. A. C., Madhi, S. A., Weckx, L. Y., Folegatti, P. M., Aley, P. K., & Bird, O. (2021). Single-dose administration and the influence of the timing of the booster dose on immunogenicity and efficacy of ChAdOx1 nCoV-19 (AZD1222) vaccine: a pooled analysis of four randomised trials. The Lancet. 397(10277): 881-891.

World Health Organization (2021). Questions & answers on COVID-19. https://www.who.int/ indonesia/news/novel-coronavirus/qa/qa-lockdown-and-herd-immunity diakses pada tanggal 14 April 2021 pukul 03.20 WIB.

 

Penulis Artikel

1.  @D_firmann
2.  @Mariaodelia
3.  @Nurulmasyiita_
4.  @Nauvalnadhirul
5.  @Natashavine14

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *