ISMAFARSI

STUDENT PRESCRIPTION #10: Mekanisme Resistensi Antimikroba

mekanisme resistensi antimikroba

Baca artikel Antimikroba sebelumnya di sini

Saat ini, resistensi antimikroba atau antimicrobial resistance (AMR) semakin menjadi masalah serius dalam dunia kesehatan. Bahkan apabila permasalahan ini tidak segera tertangani, diperkirakan AMR akan menjadi 10 juta pada 2050 (ifpma.org). Kondisi resitensi antimikroba tercapai ketika suatu antimikroba sudah tidak lagi efektif untuk penggunaan klinis, sehingga mikroba menjadi resisten terhadap antimikroba tersebut. AMR ini diakibatkan karena adanya penyalahgunaan penggunaan antibiotika, di antaranya: overuse (pemberian dosis yang terlalu tinggi dan pemakaian antibiotika yang terlalu lama), missuse (penggunaan antibiotika tidak berdasarkan bukti ilmiah), dan underuse (pemberian dosis yang terlalu rendah dan penghentian penggunaan antibiotika sebelum waktunya).

Lalu sebenarnya, bagaimanakah mekanisme resistensi antimikroba tersebut? Yuk, kita bahas tentang mekanisme resistensi salah satu jenis antimikroba, yaitu antibiotika.

Mekanisme resistensi antibiotika berbeda-beda pada setiap golongan antibiotika. Secara garis besar, mekanisme resistensi antibiotika dibagi menjadi 4 golongan. Pertama, adanya limiting drug uptake hingga blocking entry antibiotika oleh bakteri. Ada bakteri yang memproduksi dinding sel yang lebih tebal untuk mempersulit antibiotika masuk ke dalam sel bakteri (contoh: S. aureus terhadap vankomisin), ada juga kelompok bakteri yang mengurangi jumlah porin (contoh: enterobacteriaceae terhadap karbapenem), dan juga ada bakteri yang mengalami mutasi hingga menyebabkan perubahan pada porin channel (contoh: E. aerogenes terhadap imipenem dan sefalosporin tertentu) (Reygaert, 2018).

Kedua, adanya modifikasi / perubahan terhadap target molekul obat. Di satu sisi, ada banyak komponen di sel bakteri yang menjadi target obat. Namun, di sisi lain, ada banyak komponen sel tersebut yang dapat dimodifikasi oleh bakteri yang dapat menyebabkan terjadinya resistensi antibiotika. Mekanisme resistensi ini dapat dijumpai pada antibiotika golongan beta laktam (penisilin, ampisilin, cefazolin, dsb) yang terjadi karena adanya perubahan jumlah/struktur PBPs (Penicillin-Binding Proteins). Perubahan ini membuat PBPs menurun kemampuannya dalam berikatan dengan antibiotika beta laktam, sehingga tidak cukup jumlah antibiotika yang dibutuhkan untuk menghambat sintesis dinding sel bakteri (Tille, 2017).

Ketiga, inaktivasi molekul obat. Inaktivasi ini dilakukan oleh bakteri melalui 2 cara utama, yakni melalui degradasi obat dan transfer kelompok kimia ke dalam obat. Antibiotika golongan beta laktam dan tetrasiklin dapat mengalami resistensi karena adanya hidrolisis oleh enzim dari bakteri yang membuat beta laktam dan tetrasiklin menjadi inaktif. Adapun contoh transfer kelompok kimia ke dalam obat adalah proses fosforilasi dan adenilasi yang merupakan mekanisme utama dalam melawan antibiotika golongan aminoglikosida (Reygaert, 2018).

Keempat, terjadinya drug efflux (efflux of antibiotics). Pada mekanisme ini, antibiotika dipompa keluar dari sel bakteri bahkan sebelum molekul obat berikatan dengan molekul target di dalam sel bakteri. Mekanisme resistensi ini terjadi pada antibiotika eritromisin, azitromisin, dan klaritromisin (Tille, 2017).

Demikian penjelasan tentang mekanisme resistensi antibiotika. Mari gunakan antibiotika secara benar dan bijak!

 

Referensi:

Reygaert, WC. 2018. An overview of the antimicrobial resistance mechanisms of bacteria. AIMS Microbiology Journal. 4(3): 482–501.

Tille, PM. 2017. Bailey & Scott’s Diagnostic Microbiology. 14th Ed. Missouri: Elsevier, Inc.

https://www.ifpma.org/global-health-matters/underuse-of-antibiotics-could-be-a-bigger-problem-than-overuse/

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *