ISMAFARSI

Kemandirian Farmasi di Batas Angan dan Realita

Angan dan Realita

Baca artikel Advokasi sebelumnya di sini

Kemajuan Indonesia di sektor industri sudah sangat digalakkan seiring dengan perkembangan yang pesat di kancah global yang sudah mulai memasuki ranah industri 4.0. Hal ini bukanlah sebuah hal yang mudah ketika harus diterapkan di Indonesia karena dari segi SDM dan teknologi Indonesia masih belum bisa berkompetisi dan mengejar standar internasional yang ada. Tidak terbatas dari Industri kebutuhan sehari – hari dan industri lain permasalahan ini juga tercermin dari industri kefarmasian dalam negeri.

Bukan hal baru dan permasalahan baru terkait industri farmasi dalam negeri yang selama ini masih bergantung dari segi bahan baku dan kimia dasar dari impor bahkan sudah lama bahan baku kefarmasian dalam negeri dikuasai oleh produk impor. Sekitar 95% bahan baku obat yang ada di Indonesia berasal dari luar negeri seperti dari China dan India, hal ini menimbulkan sebuah pertanyaan besar bahwasannya mengapa Indonesia sebagai negara yang digdaya dari segi SDM dan sumber daya alam tidak dapat membuat dan mandiri sesederhana bahan baku obat?

Pertanyan ini tidaklah mempunyai jawaban yang simpel karena banyak faktor yang mendasari dan menghambat progresifitas dari kemajuan industri farmasi di Indonesia.  Hal inilah yang perlu menjadi evaluasi dan pertimbangan ketika pemerintah khususnya ingin mentransformasi dan melakukan revolusi industri kefarmasian Indonesia.

Faktor pertama adalah iklim industri kefarmasian Indonesia belum dapat memfasilitasi perubahan yang cepat karena masih banyak fokus pemerintah Indonesia kurang memperhatikan industri farmasi dalam negeri sesimpel Indonesia tidak terlalu bersahabat untuk mengembangkan pos – pos clinical trial yang tupoksinya adalah hal tersebut juga membantu baik secara internasional dan dalam negeri khususnya untuk lebih mudah mengmbangkan obat dan melakukan pengujian. 

Faktor selanjutnya adalah walaupun pemerintah Indonesia sudah menggaungkan kemandirian farmasi dan bahan baku obat nasional tetapi regulasi yang masih sangat kompleks menyulitkan industri dan investor yang ingin membantu, banyak yang akhirnya memilih hengkang dan menapakkan kaki di negara lain seperti Singapura, Thailand dan Filipina. 

Dari segi bantuan ekonomi pun kurang mendukung karena sadar tidak sadar dan suka tidak suka jika Indonesia ingin melakukan sebuah transformasi cepat di kancah industri banyak hal terkait ekonomi baik itu pembantuan secara langsung atau sekadar meringankan beban perizinan dan lainnya sangat diperlukan terlebih pada saat ingin memasarkan produk dalam negeri di kemudian dapat bersaing perihal harga di pasaran karena sangat percuma ketika tidak ada perbantuan ekonomi maka produk dalam negeri harus tersisih karena harganya yang dapat dibilang lebih tinggi karena harus menutupi cost dari pengemangan dan pembangunan fasilitas industri itu sendiri, karena banyak industri yang ahrus dikembangkan dan dilakukan pemekaran terutama industri kimia dasar Indonesia yang masih sedikit dan belum optimal.

Faktor terakhir adalah terkait regulasi, faktor ini salah satu kunci krusial karena jika regulasi yang beredar tidak simpel dan tidak dapat melindungi produk dalam negeri maka semua yang sudah direncanakan dan dicita citakan akan sirna begitu saja. Dengan adanya regulasi yang simpel dan baik diharapkan industri dan investor dapat dengan mudah dan cepat dalam menapakkan kaki dan berkontribusi di Indonesia. Hal ini sudah coba untuk dilakukan dengan adanya RUU Kefarmasian, dengan disahkannya RUU ini diharapkan dapat mempermudah perizinan dan menjadi payung hukum ketika industri kefarmasian Indonesia ingin leluasa untuk memajukan dan mengembangkan produk dalam negeri.

Jangan sampai permasalahan ini semua terlebih perihal regulasi menghambat dari perkembangan dan kemajuan industri kefarmasian dalam negeri dan jangan sampai cita – cita Indonesia menjadi negara adidaya pada tahun 2050 akan menjadi angan belaka. Jangan sampai program industri 4.0 tetapi kesiapan Indonesia hanya 0.4.

Jadi, dengan faktor dan permasalahan di atas. Apakah kemandirian farmasi hanya di batas angan atau akankah jadi realita?

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *