ISMAFARSI

ANALGETIK DAN ANTIPIRETIK

analgetikdanantipiretik

Tubuh kita mempunyai suatu sistem pertahanan untuk melawan bermacam-macam agen yang infeksius dan toksik, karena tubuh kita sepanjang waktu terpapar dengan berbagai bakteri, virus, jamur, parasit dan cedera jaringan. Gejala yang terjadi akibat reaksi pertahanan tubuh terhadap infeksi atau cedera jaringan yaitu demam dan nyeri. Demam adalah keadaan dimana suhu tubuh menjadi meningkat, namun masih dapat dikontrol. Suhu oral normal adalah 35,8°-37,3° C (96,5°-99,2° F). suhu rektal lebih tinggi, sekitar 0,3°-0,5° C (0,5°-1° F). Suhu tubuh normal biasanya terletak dalam rentang ini dengan suatu variasi diurnal yang berbedabeda antar individu (Amlot, 1997). Nyeri didefinisikan sebagai suatu pengalaman sensorik dan emosional yang berkaitan dengan kerusakan jaringan (Merskey dan Bogduk, 1994). Nyeri berguna bagi tubuh, namun dalam kondisi tertentu, nyeri dapat menimbulkan ketidaknyamanan bahkan penderitaan bagi individu yang merasakan sensasi ini (Irwan, 2009). Sensasi nyeri tersebut bisa diminimalisir dengan pemberian obat-obatan penghilang rasa nyeri (analgesik).  

Analgesik adalah bahan atau obat yang digunakan untuk menekan atau mengurangi rasa sakit atau nyeri tanpa menyebabkan hilangnya kesadaran atau analgesik adalah senyawa yang dalam dosis terapeutik meringankan atau menekan rasa nyeri, tanpa memiliki kerja anestesi umum. Analgesik terbagi menjadi dua kelompok utama yaitu analgesik opioid dan analgesik non-opioid. Analgesik opioid merupakan kelompok obat yang selain memiliki efek analgesik, juga memiliki efek seperti opium. Analgesik opioid digunakan dalam penatalaksanaan nyeri sedang sampai berat (Pandey, dkk., 2013). Sementara itu, antipiretik adalah obat yang bekerja untuk menurunkan suhu tubuh yang tinggi, secara selektif dapat mempengaruhi hipotalamus menyebabkan penurunan suhu tubuh ketika demam, bekerja dengan mencegah pembentukan prostaglandin dengan cara menghambat enzim siklooksigenase. 

Jadi, analgetik-antipiretik adalah obat yang mengurangi rasa nyeri dan serentak menurunkan suhu tubuh yang tinggi (Anief, 1997). Senyawa yang berkhasiat sebagai analgetik-antipiretik diperlukan untuk mengatasi masalah nyeri dan demam. Obat-obatan analgesic-antipiretik tersedia dalam golongan bebas dan bebas terbatas yang dapat dibeli tanpa resep serta golongan keras yang dapat dibeli hanya dengan resep dokter. Obat yang memiliki sifat anti-inflamasi, antipiretik, dan analgesik disebut obat anti-inflamasi nonsteroid (OAINS), seperti aspirin, asam mefenamat, diklofenak, ibuprofen, meloksikam. Selain obat sintesis, bahan alam seperti obat tradisional juga dapat digunakan sebagai analgetik-antipiretik.

Sumber :

Merskey and Bogduk,N. 1994. Classification of Chronic Pain, Second Edition, IASP Task Force on Taxonomy. Seattle : IASP Press. 

Pandey, P. V., Bodhi, W., Yudistira, A. 2013. Uji Efek Analgesik Ekstrak Rumput Teki (Cyperus rotundus L.) pada Tikus Putih Jantan Galur Wistar (Rattus novergicus), Pharmacon Jurnal Ilmiah Farmasi UNSRAT, 2(02): 2302-2493. Diakses pada 18 Februari 2022 melalui https://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/pharmacon/article/viewFile/1579/1271 

Hanifa, Widya, M. Isa, Armansyah. 2017. Potensi Infusa Batang Sernai (Wedelia biflora) sebagai Analgesik pada Mencit (Mus musculus). Jimvet. 01(4):729-735. Diakses pada 19 Februari 2022 melalui http://jim.unsyiah.ac.id/FKH/article/view/5306 

Anggraeny E.N. dan Anastasia S.P. 2016. Uji Daya Antiinflamasi dan Antipiretik Ekstrak Etanol Daun Lengkeng (Dimocarpus longan Lour) Pada Tikus Putih Jantan (Rattus norvegicum) Galur Wistar. Jurnal Ilmiah Farmasi. 12(2) 2 

Adliani N. dan Djendakita P. 2012. Formulasi Lipstik Menggunakan Zat Warna Dari Ekstrak Bunga Kecombrang (Etlingera elatior (Jack) R.M.Sm.). Journal of Pharmaceutics and Pharmacology. 1(2)

Leave a Comment

Your email address will not be published.